Persaingan La Liga musim 2019-2020 sudah sah diawali. Untuk salah satunya persaingan paling elit di dunia, La Liga tetap menyediakan laga-laga menarik. Bukan hanya masalah kemampuan, daya magic beberapa pemain, pola permainan yang enak dilihat, tetapi persaingan tinggi klub-klub ikut juga memanaskan persaingan perebutan liga kelas paling tinggi di Spanyol itu.
Termasuk di dalamnya kompetisi ketat di antara dua team raksasa, pemiliki stempel pertandingan el-clasico sangat menarik di dunia, Real Madrid versi Barcelona. Riwayat panjang bebuyutan kedua-duanya, serta tidak cuma masalah sepak bola semata-mata, tetapi seringkali bawa riwayat serta politik. Simbolisasi perlawanan dari yang “tertindas”. Karena itu tidak aneh saat buat beberapa orang Catalunya, Barcelona tidak cuma satu club sepak bola (mès que un klub) . Karena itu, laga kedua-duanya tetap sarat gengsi, masalah harga diri.
La Liga tidak cuma masalah Real Madrid versi Barcelona.

Begitu naif bila cuma mengulas sepak bola Spanyol lantas disimplifikasi oleh kedua-duanya. Ada Atletico Madrid, Sevilla, Valencia, Atletico Bilbao, Celta Vigo, serta yang lain. Tetapi kenyataan sejarahnya memang semacam itu. Kedua-duanya jadi club paling perkasa serta menguasai di La Liga. Karena itu, jadi kurang menarik rasa-rasanya saat pada pertandingan La Liga pertama tidak memberi komentar hasil yang didapat kedua-duanya.
Persaingan La Liga 2019-2020 diikuti dengan kick off laga di antara Atletico Bilbao melayani Barcelona. Seperti sangkaan beberapa orang, Barcelona akan menang. Sesusah apa saja perlawanan Los Leones, Blaugrana akan menuai kemenangan. Di atas kertas, itu rangkuman banyak analist yang lebih mengunggulkan Barca daripada Bilbao. Barca akan kuasai laga dengan style khas-nya, tiki-taka. Bola mengalir dari kaki ke kaki pemain yang dengan cara silang-sengkarut penuhi bagian-bagian lapangan.
Muter sana-muter sini. Buka ruangan, cari kesempatan. Memercayakan trio Dembele-Antoine Griezmann-Suarez (D’Asu) . Dapat dibuktikan, statistik laga bicara: 73% berbanding 27%! (ada yang mencatatnya 72%-28%) . Satu perebutan bola yang cukup edan, membuat beberapa pemain Atletico Bilbao seperti kucing kelaparan yang kesana-kemari memburu ikan. Lebih, umpan-umpan pemain Barca 2x lipat makin banyak dibanding Bilbao.
Tetapi pada akhirnya, umpan sekitar 673 Barca tidak dapat banyak berbuat terkecuali cuma pekikan “hampir” dari beberapa pemirsa serta pendukungnya. Kita ketahui, sehebat-hebatnya kata “hampir”, toh, dia bukan goal. Kata “hampir”, dalam sepak bola yang meniscayakan bola masuk gawang, sama berarti dengan jauh. Benar-benar jauh, cuma membuahkan tepok jidat serta deru.
Sesaat Atletico Bilbao, dengan memercayakan susunan 4-2-3-1 jadi bulan-bulanan dengan cara perebutan bola. Inaki Williams jadi sasaran man, didukung oleh tiga gelandang serang: Marcos, Raul Garcia, serta Iker Muniain. Tetapi ternyata, walau kalah dengan cara perebutan, Bilbao dapat bermain lebih efisien serta efektif. Kelihatan dari beberapa kesempatan serta lebih jumlahnya shoot on sasaran yang membahayakan.
Sepak bola, selanjutnya tidak bicara masalah analisis di atas kertas. Tidak bicara statistik. Sepak bola bicara masalah score. Bukannya memperoleh goal, Barca malah tersuruk. Kalah dengan cara menegangkan di beberapa detik akhir oleh sepakan salto mengagumkan dari pemain gaek Aritz Aduriz sesudah terima umpan masak dari Ander Capa.
Menyakitkan. Tentunya. Khususnya buat beberapa pendukungnya yang telah bela-belain ke luar goa. Dari beberapa analisis warung kopi, tuturnya beberapa pemain Barca belum padu. Beberapa kesempatan terbentuk, tidak dapat diubah jadi goal. Mungkin benar, jika Barca saat ini bukan Barca yang besar serta bangga dengan La Masia-nya. Harus ada proses penyesuaian dari tiap pemain yang dibelinya dengan cara gila-gilaan. Harga selangit. Beberapa salah satunya menyedihkan. Coutinho, yang putuskan untuk geser ke Bayern Munchen, salah satu bukti paling riil.
Karena itu tidak aneh saat beberapa penyerangnya sering frustrasi hadapi kokohnya pertahanan musuh, ditambah lagi garis gawang Bilbao seperti dijaga oleh beberapa dedemit yang membuat perlindungan dari kecolongan. Heuheu. Griezmann kelihatan kelelahan saat jadi sandaran ditambah lagi waktu Suarez ditarik keluar. Absennya Messi tentunya punya pengaruh sebab tidak ada kreasi umpan serta gerakannya yang sering mengagetkan serta menganakemaskan.
Tetapi, apa saja faktanya, Barca masih kalah. Menegangkan, serta sesaat harus menempati zone kemunduran. Menderita.
Lantas bagaimana dengan Real Madrid? Ahay, si Putih memperoleh hasil yang memberi kepuasan saat melumat Celta Vigo di kandangnya sendiri.
Hasil jelek pramusim terlewatkan saat hasil laga sah dipandang cukup memberi kepuasan. Menurut Detik.com, Madrid yang sebenarnya ada waktu liga diawali. Minimal sesaat, ini hanya-lah awal. Walau Hazard mangkir sebab luka, tetapi Madrid tampil mengagumkan. Gareth Bale, yang awalnya kekacauan, dicuekin, akan dipasarkan, serta dipandang memiliki masalah dengan Zidane malah tampil benar-benar baik serta menarik. Zidane serta memberikannya pujian.
Bale meliuk-liuk bawa bola lantas memberi assist dari bagian kanan pertahanan Celta Vigo serta diubah jadi goal oleh Benzema di menit ke-12. Real Madrid tampil perkasa, serta waktu Luca Modric (di menit ke-56) dipandang dengan cara menyengaja mencapai kaki Denis Suarez serta harus keluar sebab kartu merah langsung. Kartu merah pertama di La Liga. Kemungkinan Modric berpikir Denis Suarez masih pemain Barca. Heuheu.
Walau bermain dengan 10 pemain, Madrid tampil solid serta padu. Boom. Sepakan keras Toni Kroos di menit ke-61 meningkatkan keunggulan. Madrid makin menjauh saat Lucas Vasquez meningkatkan keunggulan jadi 3-0 di menit ke-80. Sesaat Celta Vigo sukses mengecilkan ketinggalan saat Iker Losada melesakkan bola pada injury time. Iago Aspas sempat kembali meneror, tetapi Curtois tampil cekatan menjaga garis gawang. Score 1-3 bertahan sampai pertandingan selesai.
Madrid perkasa, Madridista ketawa ria sesudah musim kemarin dilewati dengan catatan-catatan jelek serta tidak memberikan keyakinan. Madrid, serta Madridista, jadi bulan-bulanan serta bahan bully-an dari beberapa Deculs yang populer mahir keluarkan nyinyiran. Sesudah pecahkan rekor paling bersejarah sebab 3x juara Liga Champion beruntun, Madrid seperti melembek. Tidak ada hasrat serta kepaduan.
Buat Barcelona serta beberapa Azulgrana tentu menyakitkan, tentunya. Kalah di pertandingan pertama La Liga dengan menegangkan pasti bukan pilihan. Memperingatkan pada 11 tahun kemarin, saat Pep Guardiola menakhodai Inesta dkk. serta ditekuk oleh Numancia dengan score 1-0. Tetapi permasalahannya saat itu Barcelona tutup musim dengan memberi kepuasan saat memperoleh treble winner. Beberapa minggu beberapa Deculs lakukan pesra, berjalan-jalan ke luar tinggalkan goa. Akankah riwayat itu terulang lagi?
Benar memang, tidak begitu penting bagaimana Anda mengawali, yang lebih penting ialah bagaimana mengakhirinya secara benar serta memberi kepuasan. Quote paling baik buat beberapa fans Los Cules dalam melalui La Liga musim ini.
Baca Juga : Matteo Guendouzi serta Mimpi Mengenakan seragam Les Bleus yang Akan Lekas Terjadi
Tetapi untuk simpatisan Real Madrid

Saya merasakan suka. Bukan lantaran team musuh kalah, tetapi minimal Real Madrid sudah mengawali langkah pertama yang menjanjikan. Tinggal menjaga persistensi serta kepaduan permainan. Kehadiran Hazard, Rodrigo, Jovic, Militao, serta Mendy mudah-mudahan bawa angin fresh.
Lebih dari itu, saya lebih senang Madrid yang tidak gila-gilaan dalam belanja seperti beberapa tahun awalnya dengan Los Galacticosnya. Fans Madrid kemungkinan suka saat lihat beberapa pemain muda yang diberi kesempatan, walau satu bagian efek untuk kalah makin besar seperti musim awalnya.
Ada beberapa nama seperti Vinicius, Odriozola, Valverde, Vallejo, Reguillon, Brahim, serta Mariano Diaz yang dapat jadi keinginan serta masak di Santiago Bernabeu. Dengan cara pribadi, rasa kasihan saya untuk James Rodriguez, salah satunya pemain paling baik yang mudah-mudahan memperoleh kepastian serta tidak disia-siakan.
Mudah-mudahan Real Madrid dapat tampil persisten serta perkasa. Mengharap dapat kuasai serta memuncaki La Liga, seperti prioritas Zidane untuk sebisa mungkin jadi juara.
Paling akhir, dari karena sangat bebuyutannya, ada satire yang cukup menggelikan, jika beberapa simpatisan Tim nasional Indonesia “ikhlas” kalah dari Tim nasional mana saja, seandainya jangan dengan Malaysia! Tidak saja masalah menyakitkan, tetapi sekaligus juga masalah gengsi serta harga diri. Begitupun dengan Real Madrid – Barcelona, serta beberapa simpatisan kedua-duanya yang jadikan spekulasi pertandingan el-clasico untuk “pucuk” dari segala hal, karena menang ialah satu-sarunya pilihan!
Silahkan kita nikmati musim baru ini dengan sebegitunya. Siapkan paket untuk bayar tivi berbayar, atau siapkan paket internet untuk melihat live streaming.